BRAMAKHA.COM
Info Gunung dan Wisata

Gunung Lawu Dan 2 Cerita Mistis

Legenda tentang Gunung Lawu

0 452

indahnya gunung lawu
sumber gambar : wikipedia

Gunung Lawu mempunyai Legenda dan juga cerita mistis. Ketika Muharram atau malam Suro, gunung Lawu selalu jadi pilihan para peziarah.

Gunung Lawu tidak asing lagi bagi wisatawan yang mempunyai hobi mendaki gunung. Sejak zaman kerajaan Majapahit Gunung Lawu memiliki legenda dengan unsur magis yang kuat.

Cerita Tentang Kerajaan Majapahit

Di Gunung Lawu dipercayai bahwa jasad dan rohnya raja Majapahit Brawijaya masih berada di sana, di puncak gunung Lawu memiliki mitos bahwa Raja Majapahit brawijaya bertapa di tempat ini.

Cerita dari legenda ini akhir Kerajaan Majapahit tahun 1400 Masehi, ketika masa pemerintahan sinuwun Bumi Nata Brawijaya Ingkang Jumeneng Kaping 5 Pamungkas.

Dikisahkan bahwa Raja Brawijaya mempunyai dua istri yaitu dara petak, putri dari daratan Tiongkok dan jingga. Dari Dara Jingga lahir pangeran katong, dan dari istri Dara Petak lahir seorang anak bernama Raden Patah.

Raden Patah Tumbuh dengan dewasa dan memeluk ajaran agama Islam, yang berbeda dengan ayahnya beragama Buddha. Katakan bahwa kerajaan Majapahit telah pudar.

Di saat itulah Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak yang berpusat berada di Glagahwangi , Kabupaten Jepara.

Berdasarkan legenda yang tertulis disebutkan bahwa Raden Wijaya bermeditasi dan memohon petunjuk kepada sang Maha Kuasa.

Akhir meditasi prabu Brawijaya mendapatkan wejangan menyatakan bahwa saatnya Majapahit pudar dan Wahyu Kedaton berpindah ke Kerajaan Demak.

Ketika malam itu Sang Prabu ditemani oleh pembantunya yang setia bernama Sabdo Palon diam-diam meninggalkan Keraton untuk berkelana.

Hingga akhirnya Brawijaya naik ke puncak Gunung Lawu, sebelum mencapai puncak Brawijaya bertemu dengan dua kepala dusun yaitu Dipa Manggala dan Wangsa Manggala.

Kedua orang itu adalah Abdi dalem yang setia kepada rajanya, mereka tidak tega membiarkan raja hingga akhirnya mereka mengikuti ke Puncak hargo dalem.

Ketika itu Prabu Brawijaya bertitah. Isi titah tersebut yaitu ” wahai para Abdi ku yang setia sudah waktunya aku harus mundur, dan meninggalkan dunia ramai.

Dipamanggala karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa Gunung Lawu membawahi semua makhluk ghaib.

Dengan wilayah gunung Lawu, gunung Merapi gunung Merbabu ke Timur hingga Gunung Wilis, ke selatan hingga pantai selatan.

Dan ke utara hingga sampai Pantai Utara dengan gelar sunan Gunung Lawu. Dan kepala Wangsa Manggala kau kuangkat sebagai patihnya dengan gelar Kyai Jalak”.

Sabdopalon akhirnya berpisah dengan Prabu Brawijaya untuk naik ke Hargo Dumilah. Prabu Brawijaya bertapa di Hargo Dalem dan Sabdo Palon bertapa di Hargo Dumilah.

Dan tinggalah Prabu Brawijaya atau disebut unand sang Penguasa gunung dan Kyai jalak di puncak gunung Lawu. Hingga akhirnya menjelma sebagai makhluk ghaib yang hingga kini masih melaksanakan tugas sesuai amanat Prabu Brawijaya.

Gunung Lawu terletak di antara 3 kabupaten yaitu Magetan dan Ngawi Jawa Timur serta Karanganyar Jawa Tengah.

Gunung Lawu mempunyai ketinggian 3265 mdpl yang memiliki tiga jalur pendakian yaitu 2 di Karanganyar Jawa Tengah yakni cemorokandang dan Candi Cetho.

Sedangkan satu pintu masuk pendakian berada di Magetan yaitu Cemoro Sewu.

Kisah mistis tentang pasar setan yang ada di Gunung Lawu

lahan luas gunung lawu
sumber gambar : nophixpuck.blogspot.com

Kabar yang beredar tentang sebuah pasar tak kasat mata yang terletak di jalur Candi Cetho lereng gunung Lawu terdapat sebuah lahan yang ditumbuhi ilalang.

Jalur Cetho adalah jalur yang paling pendek dan cepat menuju puncak Lawu dikarenakan Perjalanan dimulai dari 1470 mdpl.

Namun, jalur ini jalur yang paling berbahaya. Jalanan yang ada di jalur ini tanjakannya sangat terjal dan jurang – jurang menganga dipinggiran track.

Sering terjadi kabut tebal buat jarak pandang menjadi begitu pendek dan menjadi resiko tersesat. Selain itu jalur ini adalah tempat perlintasan alam ghaib dan kehadiran Pasar setan. Itulah sebabnya tidak begitu favorit.

Para pendaki lebih memilih jalur lainnya seperti jalur Cemoro Kandang dan jalur Cemoro Sewu. Ada sebagian pendaki pernah mendengar suara bising seperti berada di pasar. Ketika melewati sebuah lahan yang berada di lereng gunung Lawu terdengar suara yang sedang menawarkan dagangan.

pasar setan gunung lawu
sumber gambar : paragram.id

Mitosnya ketika anda mendengar suara tersebut maka diharuskan membuang salah satu barang yang anda punya, seperti layaknya orang yang sedang bertransaksi dengan cara barter.

Untuk para pendaki harus selalu waspada, waspada dalam artian harus selalu menjaga sikap Selama perjalanan menuju gunung.

Contohnya seperti tidak berkata kasar, tidak berbuat senonoh, dan tidak membuang sampah sembarangan. Jagalah perilaku dan sikap dengan baik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

×