BRAMAKHA.COM
Info Gunung dan Wisata

Gunung Batok Dengan Kisah Rara Anteng Dan Jaka Segar

Legenda Gunung Batok

0 172
gunung batok rara anteng
sumber gambar : @dyahnas_ (instagram)

Gunung Batok yang memiliki ketinggian 2.440 diatas permukaan laut, dengan status gunung ini sudah tidak aktif.

Gunung Batok ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger. Walau begitu gunung ini tidak sepopuler tetangganya yaitu Gunung Bromo, tetapi gunung ini memiliki panorama yang tidak kalah menarik dibanding dengan gunung lainnya.

Gunung batok memang belom tersedia fasilitas yang mendukung seperti peralatan hiking maupun pendakian.

Tetapi para wisatawan masih bisa menginap dan menyewa kendaraan yang tersedia di warga sekitar kaki gunung Batok.

Keindahan dari gunung Batok ini menyimpan legenda yang menarik untuk disimak. Nama dari Batok tersendiri memiliki arti tempurung kelapa yang ternyata bermula dari kisah cinta Rara Anteng dan Jaka Seger yang terhalang oleh raksasa sakti yang bernama Resi Bima.

Warga sekitar yang tinggal di daerah kawasan gunung Batok mempercayai bahwa asal mula gunung ini terbentuk dari tempurung kelapa yang ditendang oleh raksasa Resi Bima.

Cerita Rakyat Suku Tengger

Konon katanya di lereng Gunung Bromo, ada seorang pasangan suami istri yang telah menunggu kelahiran anak mereka.

Suami ini adalah Raja Majapahit yang tersingkirkan dari kerajaannya. Hingga pada akhirnya sang Raja dan para pengikutnya menyingkir dan mendirikan rumah yang ada dilereng Gunung Penanjakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Gunung Bromo.

Hingga pada akhirnya sang istri Raja melahirkan seorang bayi dengan jenis kelamin perempuan dan diberi nama Rara Anteng. Rara Anteng mempunyai paras yang elok dan menawan.

Bayi ini dipercaya sebagai titisan sewi, ketika lahir tidak sedeikitpun menangis dan tetap tenang. Oleh sebab itu bayi tersebut diberi nama Rara Anteng.

Dan saat bersamaanketua pendeta yang ada di lereng Gunung Pananjakan melahir kan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Jaka Segar.

Bayi ini lahir dengan menangis sangat keras dan terlihat sehat segar, itulah alasan dibalik namanya.

Dengan berjalannya waktu kedua bayi ini tumbuh dewasa, tumbuh cantik dan tampan. Kecantikan dari Rara Anteng begitu terkenal sehingga membuat para pemuda jatuh cinta kepadanya bahkan ingin melamar dirinya.

Tetapi ternyata Rara Anteng dan Jaka Segar saling jatuh cinta. Sehingga Rara Anteng banyak menolak lamaran para pemuda tersebut hingga membuat para pemuda kecewa.

Salah seorang pimpinan perampok yang sering merampok diwilayah tersebut menykai Rara Anteng. Pemuda ini pun mendatangi desa tempat tinggal Rara Anteng dengan membuat keonaran dengan cara membakar dan merusak rumah para penduduk desa tersebut.

Hingga para warga tidak berdaya menghadapi hal tersebut. Dan begitu juga Jaka Segar yang tidak memiliki kesaktian yang cukup untuk melawan si pemuda ini dan melindungi kekasihnya.

Ayah dari Rara Anteng menanyakan kepada pemuda ini yang bernama Resi Bima “apa yang kamu inginkan hingga merusak dan membuat onar seperti ini?”.

Resi Bima menjawab “maksud dan tujuan saya kesini hanya untuk meminang putrimu yang bernama Rara Anteng. Dan pinanganku ditolak oleh putrimu sehingga saya menghancurkan desa menjadi debu yang tak tersisa”.

Pada akhirnya Rara Anteng takut akan hal keselamatan keluarga dan para warganya yang terancam, sehingga Rara Anteng memutar otak untuk menyelamatkan desa tersebut dan keluarganya.  Rara Anteng pun menemui Resi Bima secara langsung.

Rara Anteng menagatakan “Baiklah Resi Bima, saya bersedia untuk menjadi istrimu dengan satu syarat yang harus kau penuhi permintaan saya yaitu buatkan saya sebuah danau yang berada diatas Gunung Bromo.

Saya berikan kau waktu hanya semalam, dan jika kau gagal melakukan hal tersebut kau tidak bisa meminganku”. Hal ini diberikan oleh Rara Anteng untuk Resi Bima agar menggalkan keinginannya.

resi bima
sumber gambar : @lusanto_teja (instagram)

Setelah mendengar permintaan dari Rara Anteng tersebut Resi Bima langsung menuju ke puncak Gunung Bromo.

Dengan bersemangat dia melakukan itu, Resi Bima dengan kesaktiannya mengubah dirinya menjadi seorang raksasa.

Setelah itu Resi Bima mengambil batok besar yang terbentuk dari tempurung kelapa dan memulai mengeruk tanah untuk dibentuk menjadi sebuah danau.

Menjelang fajar, pekerjaan Resi Bima hampir selesai. Sehingga membuat Rara Anteng cemas dan memikirkan cara bagaimana untuk menggagalkannya.

Rara Anteng meminta seluruh warga desa untuk membakar ilalang yang ada disekitar lereng Gunung Bromo, dan dengan menabuh lesung untuk membuat bunyi”an untuk membangunkan ayam jantan supaya ramai berkokok seolah olah hari telah terang.

Resi Bimapun terkejut mendengar suara tersebut, mengira bahwa matahari telah menyingsing dengan sempurna. Rencana Rara Anteng berhasil hingga membuat Resi Bima kecewa.

Kecewanya Resi Bima terlihat dengan menendang batok yang ia gunakan untuk mengeruk tanah dengan sekuat kuatnya dan akhirnya terlemparlah batok tersebut jatuh terkelungkup menjadi Gunung Batok.

Sedangkan danau yang belom sempat selesai diberi nama Segara Wedi. Rara Anteng tidak jadi menikah dengan Resi Bima.

rara anteng dan jaka segar
sumber gambar : @lusanto_teja (instagram)

Rara Anteng pada akhirnya menikah dengan Jaka Segar. Setelah itu mereka berdoa di tepi puncak Gunung Bromo supaya dikarunia anak yang banyak dan berjanji memberikan salah satu anak mereka sebagai sesaji dikawah Bromoapabila keinginannya terpenuhi.

Hingga doa mereka terkabul, istri dari Jaka Segar ini pun melahirkan banyak keturunan kembar sejumlah dua puluh lima anak.

Dan anak mereka tumbuh dengan sehat dan pintar. Rara Anteng dan Jaka Segarpun tidak rela memberikan salah satu keturunan mereka menjadi sesaji kawah Gunung Bromo seperti janjinya terdahulu.

Hal ini jika tidak lakukan akan menimbulkan bencana besar di desa mereka. Singkat cerita ternyata anak mereka si bungsu yang bernama Raden Kusuma bersedia untuk dikorbankan sebagai sesaji di kawah Gunung Bromo demi keselamatan banyak orang.

Si bungsu pun meminta setiap tanggal 14 bulan Kasada atau ke dua belas saudara- saudaranya dan para warga memberi sesajen yang berupa tumpeng, diperoleh dari hasil bumi dan ternak ke dalam kawah Gunung Bromo.

Acara ini biasa dikenal dengan nama Yadnya Kasada merupakan tradisi masyarakat Suku Tengger yang tinggal dilokasi Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang. Mereka yang merupakan anak keturunan dari Rara Anteng dan Jaka Segar.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

×